Saturday, October 20, 2012

Jalanan


Jatinangor, 06. 30 WIB, Hari masih pagi.. ku lihat kanan kiri masih lengang, tidak seperti biasanya. tapi kelengangan ataupun hiruk pikuk orang-orang tidak menghentikan langkah kaki berjalan ke tempat tujuan. Ku cari damri Jatinangor-Dipati Ukur yang akan membawaku kesana. Seperti hal nya hari yang masih lengang, begitu hal nya dengan penumpang di bis ini, masih sedikit penumpangnya, lekas ku cari tempat duduk sebelah kanan karena berfikir cahaya matahari tidak akan menyengat jika duduk berlawanan arah jarum jam. sengaja ku pilih kursi dekat jendela agar bisa ku lihat pemandangan di jalanan yang ku lewati, pagi hari adalah saat dimana alam baru bangun dari istirahat yang cukup panjang, jika hujan turun, daun-daun pepohonan dan rumput-rumput tampak semakin hijau, udara terasa dingin dan bersih.. sedikit banyak masih ada sawah yang terbentang di sepanjang jalan tol Soekarno-Hatta, alhamdulillah, syukur ku ucapkan, hari ini dapat melihat padi hijau berjejer rapi dan merunduk dengan bulir-bulir nya yang berisi.

Saturday, October 13, 2012

Demi Waktu


بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
وَالْعَصْرِ
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Sejak tadi tak kuasa menahan air mata yang hendak menetes di depannya.. ku tahan air mata agar tak jatuh berderai, supaya ia tak ikut menangis dan iba kepada ku karena berfikir bahwa aku sedang ada masalah, tapi sungguh bukan karna masalah aku hendak menangis di hadapan manusia, tapi karena kesadaran akan kerdil dan lemahnya aku sebagai manusia. Ketika mengingatkan dan menasehati orang lain, tentu pengaruh terbesar itu ada pada diri sendiri sebagai penyampai dan akan dimintai pertanggung jawabannya, banyak ibroh yang selalu ku petik setiap ada hamba Mu yang bersedia memperjuangkan agama Mu, al Haq, Al Islam. Masya Alloh, begitu besar karunia Mu sehingga Engkau berkenan membuka satu

Friday, October 5, 2012

Tegar & Hadapi!

Senja hari ini
mengapa begitu berbeda
tak tampak langit barat
berarak merah pekat
semua tertutup awan jingga
Malam mulai beranjak naik, menebar gelap pada hamparan ladang yang menatap langit. memandang awan yang sedang tersenyum, melepaskan rintik rintik hujan yang sedang berkemas untuk membawa embun biru, pada sayap sayap angin yang menebar persada, menyuburkan tanah yang mulai tandus.
Malampun mulai kepakan sayapnya hingga berjalan menitis pada angin yang tersenyum,menebarkan pesona pada hamparan kabut yang selubungi gunung,pada gulungan ombak yang menari nari senang pada keindahan langit yang teduhkan bumi, hingga malam memberikan hiasan pita yang indah biru.
Di hamparan langit malam, ku tulis aksra harapan dan cita masa depan.. ada yang tetap bertahan, ada yang terhapus oleh tetes-tetes air hujan., ada pula yang menjadi abu dan terbang bersama angin. Musim panas dan dingin telah menjadi guru hidupnya. Menguatkan atau melemahkan dan kemudian hilang jika aksara harapan dan cita itu tidak dibutuhkan zaman. Ia mengajarkan kesabaran dan ikhlas yang tak mudah jika tak ditempuh dengan sungguh-sungguh. #Di sudut waktu menyaksikan episode kehidupan