Showing posts with label Mutiara Pengingat. Show all posts
Showing posts with label Mutiara Pengingat. Show all posts

Saturday, October 13, 2012

Demi Waktu


بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
وَالْعَصْرِ
إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Sejak tadi tak kuasa menahan air mata yang hendak menetes di depannya.. ku tahan air mata agar tak jatuh berderai, supaya ia tak ikut menangis dan iba kepada ku karena berfikir bahwa aku sedang ada masalah, tapi sungguh bukan karna masalah aku hendak menangis di hadapan manusia, tapi karena kesadaran akan kerdil dan lemahnya aku sebagai manusia. Ketika mengingatkan dan menasehati orang lain, tentu pengaruh terbesar itu ada pada diri sendiri sebagai penyampai dan akan dimintai pertanggung jawabannya, banyak ibroh yang selalu ku petik setiap ada hamba Mu yang bersedia memperjuangkan agama Mu, al Haq, Al Islam. Masya Alloh, begitu besar karunia Mu sehingga Engkau berkenan membuka satu

Wednesday, January 18, 2012

The Giver of Life


Powered by wind
Clouds progress swiftly,
Changing direction,
Changes quickly
Cumulous cloud clumping
Slowly,
Faster,
Raindrops falling
Darkened clouds
Thunder roaring
Dust and debris off the earth
Gusty wind soaring
Lightning flash,
Water splish-splash!
Fire wood turned to ash
Allohu Akbar!
Lighting splits clouds asunder
Raging thunder,
In awe we wonder
Listen to the sound of nature
In your mind picture
This moment capture
Imagine the plant bud rupture
But some days and weeks
And it comes back to life
Then flowers shoot,
All kinds of fruit,
Before it was just a dead root!
Al-Muhyi – ‘the Giver of Life’
You eat and He keeps you alive
Since the day you arrived
And continue to thrive
Without this process how will you survive?
Praise be to Alloh, the Giver of Life…



“Alloh is He who sends the winds, so that they raise clouds, and spread them along the sky as He wills, and then break them into fragments, until you see rain drops come forth from their midst! Then when He has made them fall on whom of His slaves as He wills, lo, they rejoice! (Quran, 30:48)

“And verily before that (rain) – just before it was sent down upon them- they were in despair!” (Quran, 30:49)

“Look then at the effects of Alloh’s Mercy: how He revives the earth after its death. Verily, the selfsame God (Alloh) is indeed the One that can bring the dead back to life, and He is Able to do all things.” (Quran, 30:50)

Saturday, December 17, 2011

Arsitek Peradaban

Suatu malam yang tenang dan hening. Semua orang telah beranjak ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Menarik selimut hingga terlindungi dari hawa dingin yang melingkupi cakrawala Madinah.

Namun, seorang laki-laki yang disadarkan oleh rasa tanggung jawab sebagai pemimpin menyingkap selimutnya. Dia keluar menyusuri lorong-lorong Madinah yang mencekam. Merayapi jalan-jalan yang sepi dari tapak kaki manusia. Dia keluar seorang diri menembus kegelapan malam. Barangkali ia menjumpai musafir yang tidak menemukan tempat bermalam. Atau orang yang merintih kesakitan. Atau orang lapar yang belum menemukan sesuap makanan untuk mengganjal perutnya.

Barangkali ada urusan rakyatnya yang luput dari pengawasannya. Atau mungkin ada domba yang tersesat jauh di pinggir sungai Eufrat. Alloh akan menanyakannya dan menghisabnya kelak.

Jangan heran! Lelaki tersebut adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab ra.

Setelah sekian lama mengitari Madinah dan mulai merasakan lelah pada sendi-sendinya, Umar bersandar pada salah satu dinding rumah kecil di pinggiran kota Madinah. Dia beristirahat sejenak sebelum melanjutkan langkahnya menuju masjid.

Kala itu, sayup-sayup terdengar olehnya suara dua orang wanita dari dalam rumah kecil tempat ia bersandar. Percakapan seorang ibu dengan putrinya. Percakapan dimana sang putri menolak untuk mencampur susu perah dengan air putih. Sang ibu berkata, “Campurlah susu itu dengan air!”

Sang putri menjawab, “Sesungguhnya, Amirul Mukminin telah melarang kita untuk mencampur susu dengan air. Tidakkah Ibu mendengar juru bicaranya menyampaikan larangan tersebut?” “Umar tidak melihat kita. Dia tidak akan tahu apa yang kita lakukan di saat-saat terakhir malam ini.” Jawab ibunya. Putrinya pun menjawab seketika, “Wahai Ibuku, walaupun Umar tidak melihat namun Tuhan Umar melihat kita. Demi Alloh, saya tidak akan melakukan apa yang dilarang-Nya.”

Ucapan putri tadi menyejukkan hati Umar. Jawaban yang menggambarkan kejujuran dan keimanan. Akhirnya Umar menikahkan putranya, Ashim, dengan gadis yang baik itu. Gadis itu bernama Ummu Ammarah binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah Ats-Tsaqafi. Kelak ia akan melahirkan dua anak gadis yang diberi nama Laila dan Hafshah. Laila kemudian dikenal dengan panggilan Ummu Ashim.

Ummu Ashim kemudian menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan, seorang gubernur bani Marwan. Dari pernikahan yang suci ini lahirnya seorang khalifah yang mulia, Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz yang berjuluk Khalifah Kelima adalah pemimpin yang sang bersahaja. Tingkat keimanannya tidak perlu diragukan lagi. Umar hafal Quran sejak kecil. Matanya selalu banjir air mata karena rasa takutnya pada Alloh.

Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, tidak ada yang menjadi mustahik. Tidak ada orang yang berhak menerima zakat. Rakyatnya hidup makmur dan sejahtera. Sementara Umar hidup sangat sederhana.

Apa yang menjadikan Umar memiliki pribadi yang begitu luar biasa? Ummu Ashim, ibunda Umar, mendidiknya sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Mengajarkan Umar Quran dan cinta pada Alloh. Ia selalu menjaga dan mengawasi putranya.

Ummu Ashim juga dikenal sebagai wanita yang sangat dermawan dan menyayangi orang-orang yang lemah. Ummu Ashim mewakili gambaran ideal tentang sosok seorang ibu. Demikian juga ibunda dari Ummu Ashim. Rasa takutnya pada Alloh menjadikannya pribadi yang unggul.

Keteladan wanita-wanita tersebut menjadi bukti pentingya seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi. Seorang penyair mengungkapkan bahwa ibu adalah sebuah sekolah. Apabila dipersiapkan dengan baik, berarti telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Tidak berlebihan tentu saja. Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar –terutama dalam aspek keimanan- kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.

Namun, begitu banyak muslimah yang kurang bahkan tidak memahami pentingnya peran seorang ibu. Peran yang tidak bisa digantikan oleh siapapun. Menjadi ibu full time dianggap hanya ‘pekerjaan’ tidak penting. Tidak perlu sekolah yang tinggi, tidak perlu pintar untuk menjadi seorang ibu. Salah! kita justru harus menjadi muslimah yang sangat cerdas untuk bisa memenuhi peran keibuan.

Kemuliaan peran keibuan dewasa ini pun semakin tergerus oleh serangan barat. Setelah Quran dan Sunnah Nabi, hal yang kerap kali diserang oleh para orientalis adalah wanita dan perannya dalam keluarga.

Ide-ide feminisme, kesetaraan gender, dan kebebasan wanita saat ini gencar disuarakan barat kepada umat Islam. Kita pun tahu, tidak sedikit yang terjebak untuk mencicipi racun atas nama kebebasan wanita tersebut. Akhirnya, hancurlah kemuliaan dan martabat wanita diikuti dengan runtuhnya pilar-pilar keluarga dan pendidikan anak.

Islam telah mengajarkan kemuliaan seorang ibu. Sejarah telah mencatat banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat. Tak pernah ada cacat pada peran keibuan. Tak pernah ada cela pada predikat seorang ibu. Maka tak berlebihan bila ada ungkapan bahwa surga ada di telapak kaki ibu.

Muslimah perlu menyadari peran pentingnya sebagai seorang ibu. Ibu bukan hanya tiga huruf, I – B – U, yang begitu sederhana hingga mudah dilupakan. Ibu bukan hanya predikat sepele sehingga perannya tidak perlu dipenuhi.

Ibu adalah simpul penting sebuah sambungan peradaban. Dialah yang akan mencetak sebuah generasi. Ibu adalah tiang yang akan mengibarkan kembali bendera kejayaan Islam lewat pendidikannya terhadap keluarga. ibu, tak pernah bermakna kecil. Karena Alloh lah yang menjadikannya begitu mulia.

Wednesday, November 30, 2011

Istiqomah


“Ya Rasululloh, ajarkanlah kepadaku suatu perkara yang aku berpegang teguh kepadanya”. Bersabda Rasululloh SAW: “Katakanlah: Saya beriman kepada Alloh. Kemudian beristiqomahlah.” [HR Muslim].

Saturday, November 19, 2011

Menempatkan Anugerah

Cinta dan benci adalah rasa yang dianugerahkan Alloh SWT kepada manusia. Maka seperti halnya rasa benci, rasa cinta juga harus ditempatkan sesuai dengan perintah Alloh. Dalam QS. At-Taubah Alloh berfirman,

“Katakanlah : “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Alloh dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusanNya, “ dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (TQS. At-Taubah (9) : 24).

Dalam ayat tersebut jelas sekali tersirat bahwa cinta kita kepada keluarga, jangan sampai mengalahkan cinta kita kepada Alloh. Maka ketika kita mencintai mereka, cinta itu harus diarahkan untuk mentaati Alloh dan RasulNya, menyambut seruanNya dan berlomba-lomba menuju ampunan dan surgaNya.

Ketika bicara cinta antara dua manusia, maka cinta antara Rasulullah dan Khadijah adalah gambaran yang utuh, cinta yang dibangun semata-mata hanya meraih keridloan Alloh semata. Rasullullah menikahi Khadijah bukan karena kedudukannya, bukan pula karena harta dan kecantikannya, sekalipun Khadijah memiliki itu semua. Rasulullah memperistrinya, karena melihat Khadijah adalah sosok yang mampu menyokong dakwah dan perjuangannya. Lihatlah ketika Khadijah mendampingi Rasulullah, dia mampu menjadi pendukung utama dakwah Rasul, dengan harta dan jiwanya, sepenuh hati. Menjadi sandaran Rasulullah saat orang-orang Quraisy Makkah memusuhi dan menghinanya. Menjadi hiburan teristimewa saat Rasul membutuhkannya, dan melahirkan generasi pejuang yang mampu menjadi aset akhiratnya.

Atau bagaimana kisah Ibrahim alaihissalam dan Hajar. Rasa cinta kepada Alloh, membuat mereka ridlo dengan apapun ketetapan Alloh, sekalipun Ibrahim harus meninggalkan Hajar dan Ismail di tengah padang pasir, meninggalkan istri dan anak yang tentu saja sangat dicintainya. Tapi lagi-lagi, cinta kepada Allohlah yang harus ditempatkan pada letak yang tertinggi.

Bagaimana pula dengan kisah suami istri Yasir dan Sumayyah. Dua pasangan syahid pertama yang rela disiksa demi mempertahankan akidahnya. Suami istri yang menyadari bahwa hidup hanyalah dipersembahkan untuk Alloh dan RasulNya, maka ikatan cinta yang mereka bangun adalah ikatan yang berlandaskan pada ketaatan kepada Alloh dan Rasulnya. Rela menanggung derita, rela mengorbankan apapun yang dimilikinya, rela melepaskan waktu berdua, ketika Alloh dan Rasulnya memintaNya.

Demikian hal nya kisah para sahabat di Uzbekistan. Ketika para suami mereka mendapat siksaan dari rezim Islam Karimov karena memutuskan tetap memilih berdakwah dan memperjuangkan ditegakkannya hukum-hukum Alloh di muka bumi, sang istri bukannya lari meninggalkannya, tapi memberi dukungan yang luar biasa. Mereka mengatakan, “Jika kau melepaskan jalan dakwah ini, sungguh kau tak pantas menjadikanku istrimu”. Subhanalloh,

Kisah-kisah yang luar biasa. Cinta mereka dipersembahkan hanya untuk Alloh dan RasulNya, cinta yang sudah tentu mendapat keridloanNya, kisah cinta yang akan Alloh tempatkan di surgaNya kelak. Sangat jauh berbeda dengan kisahnya Romeo dan Juliet, Sam Pek Eng Tay, Tittanic, Cinderella, Laila Majnun dan kisah-kisah fiksi lain yang digembar-gemborkan sebagai cinta sejati, nyatanya hanyalah kisah sampah yang melenakan para generasi kita. Wallahualam.

Menjadi yang dirindukan

Di setiap pagi, ada yang dirindukan oleh daun-daun pepohonan. Mereka merindukan hangatnya mentari pagi, mentari yang tidak saja memberi kehangatan tapi juga energi untuk membuatnya bisa bertahan hidup. Energi untuk bisa memproses CO­2­2O menjadi karbohidrat dan oksigen sebagai energi yang berguna untuk kehidupan. Karena dengan itulah pepohonan bisa menularkan manfaatnya untuk hewan, manusia dan lingkungannya. Indahnya menjadi matahari, memberikan energi terindah untuk kehidupan. dan H­

Di setiap malam, ada yang dirindukan oleh setiap makhluk. Siapa lagi kalau bukan rembulan, cahayanya di tengah kegelapan malam, menjadi penuntun setiap makhluk. Menjadikan mereka tak terperosok dalam kegelapan, tak terjatuh dalam keremangan dan mampu terus melaju di tengah kesunyian. Indahnya menjadi rembulan, menerangi setiap langkah kehidupan.

Di setiap kemarau panjang, ada yang dirindukan setiap insan. Apa lagi jika bukan sentuhan air hujan. Tetesannya mampu menyejukkan dahaga yang melanda, alirannya mampu memenuhi rongga-rongga dunia yang kekeringan dan limpasannya mampu membuat siapapun merasakan kesejukannya. Sebuah rahmat bagi makhluk semesta, dan tidak seharusnya menjadi bencana. Indahnya menjadi sang hujan, menaburkan sejuta manfaat di setiap tetesannya.

Matahari, rembulan dan hujan….mereka layak dirindukan, karena kehadirannya membuat semua makhluk mampu merengkuh manfaat tanpa pernah membayarnya, tanpa pernah meminta gantinya dan tanpa pernah menghitung pemberiannya. Memberi yang terbaik dengan ketulusan dan cinta, tanpa pernah meminta imbalan atas jerih payahnya.

Kita memang bukan matahari, rembulan dan air hujan….tapi kita adalah makhluk yang diberi kemampuan untuk berempati, kemampuan untuk berbagi, kemampuan untuk memberi dan kemampuan untuk berterimakasih. Kita memang tak punya apapun untuk dimiliki, tapi tak ada alasan yang membuat seorang manusia berkata ”Aku tak punya apapun untuk di bagi”, karena kita punya hati, akal dan budi. Jika tak ada harta yang bisa kau beri, berilah ilmumu, jika belum banyak ilmu yang bisa kau tularkan, berilah tenagamu, jika tak cukup banyak tenaga yang bisa kau bagi, berilah kata-kata indahmu untuk menghibur dan menyemangati, jika kata-kata pun kau tak mampu, berilah senyum dan doa tulusmu, dan berikan semua itu dengan cinta dan keikhlasanmu. Karena hanya dengan itulah kau layak dirindukan, sekalipun kau bukan matahari, rembulan ataupun hujan.

Ilalang


Ilalang itu, tak secerah mawar di kebun indahmu. Tak seputih melati di taman asrimu. Harumnya tak semerbak seperti bunga sedap malam di ruang istanamu… ilalang hanyalah sewarna kuning yang mengering, lusuh menghampar di sepanjang pandangan.

Angin merapuhkan butiran dalam genggaman, hujan mengatupkan bentangan sayap di sepanjang batang, langkah menghempaskan helaian raga….

dan mungkin aku tak lebih baik dari ilalang,

Jika dalam diamku, aku tak bertasbih memuji namaMU, ya Rabb..

Subahanallahi Walhamdulillahi Walaa ilaa ha’Illallaahu Wallahuakbar