Showing posts with label Pojok Muslimah. Show all posts
Showing posts with label Pojok Muslimah. Show all posts

Thursday, December 29, 2011

Peran Intelektual Muslimah dalam Mewujudkan Kebangkitan Peradaban Islam

''Wanita adalah tiang negara, apabila wanitanya baik, maka baiklah negara itu, tapi bila wanitanya buruk, maka buruk pulalah negara itu.'' (al-hadist).

Peran perempuan dalam menata dunia tidak bisa dipandang sebelah mata. Kenapa? karena dari 6,5 milyar penduduk dunia 3,23 milyar-nya perempuan, itu berarti 49 % penduduk dunia adalah perempuan, ini menunjukkan betapa signifikannya peran perempuan dan ini semakin mengukuhkan bahwa perempuan adalah salah satu pilar kekuatan SDM bangsa.

Dalam perjalanan sejarah bangsa, mahasiswi sebagai kaum intelektual adalah elemen penting yang sangat ditunggu kehadiran dan kotribusinya. Hal tersebut merupakan hal yang wajar mengingat berbagai gelar dan status yang disandangkan kepadanya yaitu sebagai iron stock. Mahasiwi sebagai iron stock diharapkan untuk menjadi tonggak penentu bangsa yang memiliki kemampuan intelektual, tangguh dan berakhlak mulia. Peran ini mengharuskan mahasiswi untuk melek dan peduli dengan lingkungan, sehingga ia akan mudah menyadari segala permasalahan yang ada di tengah masyarakat.

Sejarah telah mengukirkan banyak cerita tentang bagaimana peran mahasiswa dan mahasiswi dalam perubahan kondisi bangsa dan negaranya mulai dari zaman kenabian, zaman kolonialisme hingga zaman reformasi.

Lain dulu lain sekarang. Kini, kenyataan dilapangan berbeda dari yang diharapkan. Mahasiswa cenderung hanya mendalami ilmu-ilmu teori di bangku perkuliahan, terbawa oleh arus fashion dan kehidupan westernisasi lainnya, sedikit sekali diantaranya yang peka dan peduli terhadap kondisi masyarakat, Ketika bicara tentang mahasiswi yang terbayang adalah sosok individualis dan self centered. Lebih jauh lagi, di sebagian mahasiswi kini mengidap penyakit apolitis dan apatis yang tidak mau tahu kondisi yang terjadi saat ini.

Mahasiswi memiliki peran intelektual dan tonggak perubahan. Sebagai kaum intelektual berarti menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh dan menjadikan menimba ilmu itu sebuah kewajiban dan ibadah kepada Sang Pencipta. Ketika sebagai tonggak perubahan artinya mahasiswa harus peduli dengan lingkungan sekitar dan mampu untuk melakukan perubahan ditengah-tengah umat.

Karena sesungguhnya umat saat ini membutuhkan mutiara-mutiara untuk menerangi mereka dalam kegelapan. Siapa mutiara itu? MAHASISWI!

Perubahan apa yang seharusnya layak diusung oleh mahasiswi. Sejatinya mahasiswi adalah makhluk sang Khaliq yang setiap perbuatannya terikat pada hukum syara’. Maka perubahan yang layak diusung adalah dengan islam.

Seruan Kepada Intelektual Muslimah Indonesia

Berdasarkan itu semua, kami menyerukan kepada intelektual muslimah khususnya dan perempuan Indonesia pada umumnya untuk :

1. Memiliki identitas yang jelas yakni memegang teguh islam.

2. Melakukan pencerdasan ke tengah kampus dengan islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin.


Monday, July 25, 2011

Takwa, Kecantikan Sejati

Bebaskan perempuan dari penjara industri kosmetik kapitalis.

Perhelatan Miss Universe 2010 di Las Vegas, Amerika Serikat berakhir sudah. Finalis asal Meksiko Jimena Navarrete terpilih sebagai Ratu Sejagad, mengalahkan 83 kontestan lainnya. Seperti sudah tradisi, kontestan asal Amerika Latin yang memang terkenal cantik-cantik selalu juara. Sementara Miss Indonesia Qory Sandioriva, pulang dengan tangan hampa. Seperti para pendahulunya yang juga tak pernah merebut gelar satupun, Qory gagal total.

Head of Communication Department Yayasan Puteri Indonesia, Mega Angkasa mengakui, kegagalan Qory karena secara fisik memang kurang ideal. Karena itu, agar sukses di Miss Universe 2011 mendatang, Yayasan Puteri Indonesia akan mencari calon Puteri Indonesia dengan tolok ukur lebih sesuai dengan standar Miss Universe. “Secara fisik, sosok yang kami cari harus tinggi dan memiliki bobot proporsional, selain memiliki kemampuan bahasa internasional yang baik dan benar,” imbuh Mega (okezone, 24/8/2010). Duh, kasihan Qory.

Penjara Kapitalis
Kontes kecantikan merupakan parameter yang dijadikan alat untuk melahirkan sosok perempuan sempurna. Dari sanalah tercipta stereotipe cantik, yang merujuk pada penampilan fisik semata. Yakni, tubuh tinggi semampai, kulit putih mulus, dan bodi proporsional.

Stereotipe seperti ini menjadi penting guna menggerakkan industri kosmetik. Jutaan wanita lantas tersihir, berlomba-lomba menyulap dirinya seperti gambaran ideal itu. Jadilah perempuan sebagai komoditas industri kosmetika. Perempuan tak punya identitas sendiri, melainkan terobsesi dengan model cantik ala boneka Barbie.

Perempuan tidak memiliki otoritas terhadap tubuhnya karena tidak sesuai dengan mainstream industri komestik. Otak perempuan menjadi tidak penting, lebih utama kecantikan fisiknya. Stereotipe cantik telah memenjarakan perempuan dalam industri kosmetik kapitalis.

Situasi ini jelas tidak mendidik. Kaum perempuan tidak termotivasi untuk kreatif dengan karya nyata, tapi lebih sibuk memikirkan penampilan. Lihat saja, perempuan saat ini lebih suka menghabiskan waktu di salon dibanding kursus masak misalnya. Mereka lebih rela merogoh kocek dalam-dalam untuk produk pelangsing dibanding membiayai kuliah misalnya.

Jangan heran, potensi ekonomi kaum perempuan sejagad banyak tersedot untuk belanja produk penunjang kecantikan. Seperti belanja produk pemutih dan pelangsing. Menurut laporan Majalah Economist 2009, pengeluaran untuk make-up, diet, olahraga, parfum, perawatan kulit, produk rambut, dan operasi kosmetik mencapai 160 milyar dolar per tahun di seluruh dunia.

Cantik Vs Pintar
Sejatinya, menjadi perempuan cantik itu menyiksa. Memang, bisa jadi di satu sisi seorang perempuan cantik akan mendapat kemudahan-kemudahan dibanding yang kurang cantik. Saat melamar pekerjaan misalnya, jika ada dua kandidat perempuan yang sama-sama pintar, satu cantik dan satu standar, pasti yang cantik yang diterima.

Tapi, hidup seorang perempuan cantik tak selamanya menjadi mudah. Bahkan mungkin bebannya menjadi lebih berat daripada perempuan lain pada umumnya. Sebab ia harus membuktikan pada dunia bahwa ia tak hanya bermodal kecantikan, tapi juga kemampuan. Maka ketika seorang perempuan cantik tak mampu membuktikan kinerja yang baik, ia akan berbalik diremehkan. "Cantik-cantik kok bodo?" Begitu komentar orang.

Kurangnya kualitas kecerdasan inilah yang lalu menimbulkan stereotip bahwa perempuan cantik itu umumnya tak cerdas. Karena itu, dianugerahi wajah cantik, seseorang dituntut "lebih" dalam hal lainnya. Harus baik, ramah, lucu, dan pintar. Sebuah tuntutan yang menyiksa terutama bagi si cantik yang tidak berisi otaknya.

Padahal, tidak semua perempuan cantik itu bodoh. Masalahnya, seringkali mereka hanya lebih peduli untuk merawat kecantikan. Seperti kata Mignon McLaughlin, wartawan dan penulis di sejumlah majalah wanita seperti Redbook, Cosmopolitan, Vogue, dan Glamour: "Banyak perempuan cantik yang bahagia dengan kecantikannya, tapi tidak ada perempuan cerdas yang bahagia dengan kecerdasannya." Perempuan cantik akan puas dengan kecantikannya, tapi perempuan pintar tidak akan pernah puas dengan kepintarannya.

Ahli Surga
Sebagai Muslimah, kita jangan larut pada paham sekuler yang menjadikan kecantikan segala-galanya. Justru dalam pandangan Islam, kecantikan fisik bukan apa-apa. Jangan tertipu dengan jerat-jerat yang dipasang para pelaku industri kosmetik. Sejatinya mereka berniat busuk memalingkan para Muslimah dari identitas keislamannya.

Ya, salah satu upaya ideologi sekuler untuk mengalahkan Islam adalah dengan menjatuhkan para wanitanya. Kaum perempuan adalah sosok paling mudah dibujuk-rayu. Jika sudah hancur harkat dan martabat para Muslimah, akan sangat mudah menggoyahkan sendi-sendi ideologi Islam. Bukankah sudah banyak fakta, betapa kerusakan pada kaum wanita akan menjadi pintu kehancuran? Itulah yang diharapkan Barat, dengan menggiring kaum perempuan pada kecantikan palsu duniawi. Mereka dijadikan obyek maupun subyek industri kecantikan. Sumber energi kaum perempuan diekploitasi habis-habisan di sektor sia-sia ini.

Karena itu, wahai kaum wanita, selamatkan diri kita dari penjara kapitalis. Sebagai Muslimah, kita wajib menyadari bahwa ketakwaanlah nilai-nilai utama yang wajib dikejar dibanding kecantikan. Karena itu, daripada sibuk memikirkan polesan make-up, marilah bersibuk memikirkan bekal iman. Tak perlu memoles bibir dengan gincu, tapi poleslah dengan dzikir, tasbih dan tahmid (Ali Imron: 41).

Muslimah takwa adalah yang selalu mengucap syukur atas nikmat Allah SWT (Al-Baqarah: 152). Lidahnya terjaga dari cacian, umpatan, olok-olokan, dan kata-kata kotor yang menyakitkan hati (Al-Hujaraat: 11). Matanya bening, terjaga dari hal-hal yang haram untuk dilihat (An Nuur: 31). Hatinya penuh rasa kecintaan kepada Rab-nya (Ali Imron: 31). Jauh hatinya dari rasa dengki, sombong dan hasud. Keikhlasan senantiasa menghiasi qalbu yang tidak pernah lupa akan kebesaran Allah SWT (An Nisaa: 125). Hati yang senantiasa siap menerima kebenaran dan keimanan. Hatinya bak cermin nan indah dan bersih, yang selalu siap menerima hidayah dari Allah SWT dan memantulkannnya serta menyebarkannya ke seluruh penjuru jagad raya.

Muslimah cantik selalu mengenakan pakaian takwa (Al-A'raaf : 26). Pakaian yang senantiasa melindunginya, dalam setiap waktu dan kesempatan. Pakaian yang membedakan dirinya dari wanita rendahan. Pakaian yang membawanya menuju pribadi mulia. Busana yang kelak membawanya berjumpa dengan Allah SWT tercinta. Itulah ciri-ciri wanita ahli surga. Semoga kita termasuk satu di antaranya. kholda naajiyah

Permaisuri Harun ar-Rasyid, Zubaidah: Arsitek Jalur Haji

Harun ar-Rasyid, menjadi lebih istimewa, karena mempunyai istri yang cerdas, cantik dan luar biasa jasanya kepada Islam. Dia tak lain adalah Zubaidah binti Ja'far al-Akbar bin Abi Ja'far al-Manshur. Keinginannya untuk memberikan pelayanan kepada kaum Muslim, khususnya jamaah haji, sehingga memudahkan perjalanan mereka, diwujudkannya dalam megaproyek “Jalur Zubaidah”, yaitu jalur perjalanan yang berbasis arsitektur dan logistik modern.

Dia mulai dengan membuka jalan, mendirikan waduk, mengebor sumur, membangun perumahan dan tempat peristirahatan (rest area) di sepanjang jalur perjalanan tersebut. Dia juga mendirikan sejumlah tempat peristirahatan dan telaga air raksasa di Mina dan Arafah, juga melakukan pengeboran untuk sejumlah sumur. Dia menginstruksikan kepada para insinyur untuk mengalirkan air dari pegunungan yang ada di sekitar Makkah melintasi saluran air yang dibuat khusus untuk memindahkan ke waduk raksasa di dalam kota Makkah, yang kemudian diberi nama Birkah Zubaidah (Waduk Zubaidah).
Untuk mengerjakan mega proyeknya, dia memo-bilisir banyak potensi, pakar dan tenaga ahli untuk melak-sanakan mega proyek pembangunan ini. Dia meng-gunakan jasa para insinyur sipil untuk membuka dan memperbarui jalur perjalanan, menggambar rambu-rambu, serta mendirikan kolam-kolam raksasa, perumahan dan tempat peristirahatan, sementara para insinyur ahli geologi melakukan pengukuran sumber air. Para tukang bangunan juga telah dikerahkan untuk membangun kolam-kolam raksasa, telaga air raksasa, sumur bor dan saluran air kolam raksasa.

Sedangkan para petani diperintahkan untuk menanami tanah di sekelilingnya. Para penggembala diminta untuk mengusahakan dan mengembangkan kekayaan hewani untuk membekali para musafir dengan makanan, minuman dan logistik lainnya. Tidak lupa para arsitek dan ahli bangunan diminta untuk menghitung kebutuhan jalur perjalanan ini, termasuk pekerjaan perencanaan dan kajian untuk pengembangan dan peremajaannya agar sejalan dengan tuntutan dan kebutuhan jamaah haji dan para musafir di masa mendatang. Perlu diketahui, mega proyek ini berhasil diselesaikan melalui kerja keras permaisuri yang luar biasa, dengan supervisi dan nafkah pribadinya.

Jalur Zubaidah ini sendiri meliputi Kufah, di Irak hingga Rafha, yang berbatasan dengan Saudi, lalu Rafha hingga Fida, dengan jarak kira-kira 120 km di sebelah tenggara; Fida hingga ar-Rabdzah (terletak 190 km dari Madinah ke arah timur, dengan jarak 350 km); ar-Rabdzah hingga berakhir di Makkah. Peninggalan mega proyek Zubaidah ini sampai sekarang masih. Di sini terdapat rest area Fida, dengan kolam Qarnatain, kolam al-Makhruqah Tuz, kolam al-Arainabah al-'Inabah dan kolam al-Jufailiyah al-Fahimah. Juga rest area Sumaira' dengan kolam Harir al-Hasanah, kolam Katifah al-'Abbasiyah. Selain itu, juga ada rest area al-Jafniyyah dengan kolam Wasad al-Mawiyah, dan rest area as-Shaq'a. Terakhir ar-Rabdzah yang dikenal sebagai kawasan arkeologis.
Fida, terletak di tenggara Hail, sekitar 120 km. Pada zaman 'Abbasiyah, Fida adalah kota terpenting yang berada di jalur perjalanan Zubaidah ini. Karena letaknya yang ada di tengah-tengah antara Kufah dan Makkah. Fida di masa itu telah dipersiapkan oleh Khilafah 'Abbasiyah untuk menyambut para jamaah haji dan umrah dengan makanan, minuman dan kendaraan yang mereka butuhkan. Para jamaah haji dan umrah pun bisa menitipkan barang-barang dan kendaraan mereka kepada penduduk Fida, untuk mereka ambil kembali sepulang mereka dari tanah suci. Karena itu, nama Fida terukir dalam syair Arab, Zahir bin Abi Salma.

Itulah wujud tanggung jawab seorang Khalifah dan permaisurinya yang begitu besar kepada Islam dan umatnya. Karenanya, Harun ar-Rasyid dan Zubaidah terpatri dalam ingatan umat Muhammad sepanjang masa

Ibu, Susuilah Anakmu!

Menyusui adalah investasi dunia akhirat bagi ibu sekaligus anak.

Kementerian Kesehatan akan melarang iklan susu formula untuk bayi usia di bawah satu tahun mulai tahun depan. Ini dipicu masih rendahnya kesadaran kaum ibu untuk menyusui anaknya. Menurut Konsultan Neonatology RSCM, Prof Rulina Suradi, SpA (K) IBCLC, ibu yang memberikan air susu ibu (ASI) secara eksklusif kepada bayinya sampai berumur enam bulan saat ini masih rendah, yaitu kurang dari dua persen dari jumlah total ibu melahirkan. Apalagi menyusui sampai dua tahun.

“Itu antara lain terjadi karena pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI masih rendah, tatalaksana rumah sakit yang salah, dan banyaknya ibu yang mempunyai pekerjaan di luar rumah,” katanya seperti dikutip www.depkes.go.id.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih di RSCM Jakarta, Senin (25/10) mengatakan, "Susu formula tidak bagus untuk bayi baru lahir sampai usia satu tahun. Kita harus memberikan ASI, itu mengurangi kejadian autis dan meningkatkan kecerdasan anak."

Larangan iklan ini, kata Menkes, akan tercantum dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Pemberian ASI yang tengah disusun. RPP ini sendiri semula ditargetkan bisa terbit Oktober 2010 atau setahun sejak UU Kesehatan disahkan, yakni pada Oktober 2009. Pasalnya RPP Pemberian ASI baru bisa berjalan jika sudah ada peraturan pemerintah.

Membongkar Mitos
Gerakan pemberian ASI didukung larangan iklan susu formula, sangat penting untuk mendobrak mitos yang telanjur melekat di benak masyarakat bahwa susu formula lebih baik dari ASI.

Selama ini, iklan susu formula cenderung menyesatkan. Digambarkan, susu tersebut memiliki kandungan mineral penting yang bisa mencerdaskan anak. Padahal, kandungan susu formula tak sehebat ASI. Sudah banyak penelitian membuktikannya. ASI makanan terbaik bayi baru lahir sampai dua tahun, tiada bandingannya.

Sayang, banyak ibu-ibu terbujuk dengan iklan tersebut, terlebih para ibu pekerja (sibuk). Lebih ironis lagi, kalangan atas yang notabene terdidik, lebih mempercayakan kecerdasan anaknya pada susu sapi formula. Padahal meski mahal dan gengsi, tetap saja tak seideal ASI. Lagipula, konsumsi susu saja tak menjamin anak cerdas tanpa rangsangan sejak dini. Sementara rangsangan itu paling efektif diberikan saat menyusui.

Perlu diingat, susu formula yang diperas dari sapi, didesain agar menyamai ASI. Nutrisi seperti Omega-3, DHA, AA/ARA pun dibenamkan. Hanya, sehebat apapun, tak ada yang bisa menyamai ASI 100 persen. Bahkan dalam prosesnya, kerap membahayakan bayi. Seperti ditemukan kandungan melamin dan bakteri beberapa waktu lalu.

Yang paling penting, ada sistem imun dalam ASI yang tak ada dalam susu formula. Bayi ASI lebih kebal penyakit dibanding bayi bersusu sapi. Soal kecerdasan anak ASI, jangan tanya lagi. Buktikan sendiri!

Bukti Sayang Allah
ASI adalah ungkapan kasih sayang Allah sekaligus hak bagi si bayi. Ibu mendapatkan anugerah luar biasa untuk menjalankan kewajiban memberikan ASI itu pada buah cintanya.

Firman Allah SWT: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (Al-Baqarah [2]: 233)

Jika pemerintah baru tahun depan mengingatkan kembali pentingnya ASI, Allah SWT telah berabad-abad lalu mengingatkan manusia akan pentingnya ASI. Jauh sebelum ada penelitian yang membuktikan bahwa dua tahun pertama merupakan 'The golden age', masa keemasan bagi anak.

Karena itu, disunahkan bagi ibu menyusui anaknya selama dua tahun. Artinya, sangat dianjurkan oleh para ibu untuk melaksanakan tugas kodratinya ini, kecuali kondisi darurat.

Jadi, sangat disayangkan jika kaum ibu mencari-cari alasan untuk mengabaikan tugas menyusui ini. Seperti alasan bekerja, air susu kering atau sedikit (takut bayi tidak kenyang), atau takut merusak keindahan payudaranya.

Saking pentingnya ASI, bahkan Allah SWT memerintahkan untuk mencarikan ibu susuan bagi si bayi, bila ibu kandungnya tak sanggup menyusui dengan alasan syar'i. Tentu saja, Allah SWT tidak memerintahkan bayi untuk menyusu pada sapi, sebagaimana diperankan susu formula. Dengan demikian, hak bayi untuk menyusui tetap terpenuhi.

Kita bisa bercermin pada kisah Nabi Musa, di mana dalam keadaan sangat darurat pun, ibundanya berusaha mencari cara agar tetap bisa menyusui sang buah hati (QS Al-Qashash: 7). Allah pun berkenan mengabulkan doanya, ketika istri Fir'aun mencari ibu susuan dan pilihan jatuh pada ibunda Musa (QS Al-Qhashas: 12). Kita, dalam kondisi normal, masihkah berdalih menolak menyusui demi masa depan buang hati?

Di sisi lain, ibu susuan 'disetarakan' dengan ibu kandung. Ini menunjukkan pentingnya menyusui dan hukum-hukum yang kemudian berlaku. Saudara sepersusuan menjadi mahram (QS An-Nisaa':23).

Ibadah Terindah
Menyusui bayi, terlebih yang baru lahir, adalah aktivitas yang sangat indah. Mungkin sakit bagi si ibu, sulit bagi si mungil, tapi sungguh pengalaman berharga yang tidak ada bandingannya. Bagaimana ibu-bayi berinteraksi intensif untuk pertama kalinya setelah beberapa menit yang lalu si bayi masih di dalam perut sang bunda.

Menyusui bukan sekadar proses pengaliran ASI ke mulut bayi agar bayi kenyang dan tenang. Menyusui adalah saat penyaluran kasih sayang, pendidikan sejak dini dan ibadah. Ya, jadikan proses laktasi sebagai ibadah, bukan sekadar insting keibuan. Berapa kali bayi mereguk ASI sehari, kali dua tahun lamanya. Senilai itulah pahala yang didapat ibu. Betapa murah dan mudahnya mendulang pahala bagi para ibu shalihah ini.

Amru bin Abdullah pernah berkata kepada isteri yang menyusui bayinya, “Janganlah engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan bertauhid kepada Allah Subhanahuwata'ala.”

Subhanallah, pelajaran yang sangat berharga. Betapa mungkin kita lupa, menyusui adalah bentuk investasi kita di dunia dan akhirat. Saat menyusui, adalah saat paling efektif untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan sang buah hati. Ajaklah bicara, kenalkan pada Rabb-Nya, beri sentuhan kasih, dan tatap mata polosnya. Semoga anak kita menjadi anak yang bersyukur pada Rabb-nya dan orang tuanya.

”Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S. Luqman :14)

Jadi tunggu apalagi, wahai para ibu, susuilah anak-anakmu![] kholda naajiyah

Wednesday, July 13, 2011

Ummu Syariek, Dimana Ketegaran Membinasakan Kebodohan

"Sejak memeluk Islam gelora semangat Tufail pemimpin suku ad-Dausy untuk berdakwah pada kaumnya makin tak terbendung. Mula-mula pada istrinya, ia lansung menyerunya " dengarkanlah..... mulai detik ini engkau bukan milikku dan aku bukan milikmu."

"Mengapa demikian wahai suamiku?" Islam telah membedakan aku dan engkau!

"Tidak...sebab agamamu adalah agamaku!" jawab sang isteri mantap.

Seruan dakwah Tufail, disambut dingin. Kecuali oleh dua orang, Abu Hurairoh dan Abul Akr, yang menyambut hangat Abul Akr adalah suami dari Ghaziyah binti jabir, wanita yang sontak mengimani apa yang diimani suaminya.

Dari sinilah bermula kisah ketegaran seorang Ghaziyah binti Jabir. Wanita yang terkenal juga dengan dengan sebutan Ummu Syariek itu tanpa sungkan sejak itu memperlihatkan ciri-ciri keimanannya pada masyarakatnya. Muslimah itu berharap, akhlak-akhlak karimah yang diperlihatkannya, akan makin membuka kesadaran kaumnya.

Namun ternyata harapannya melesat, tetangga-tetangganya malah jadi berang dengan ulah Ummu Syariek, dan langsung mengadukan perihal keislaman wanita itu pada saudara-saudaranya. Suatu hari , tatkala suaminya sedang tak berada dirumah, saudara-saudara suaminya beramai-ramai menggedor pintu rumah Ummu Syariek. Dengan wajah beringas penuh permusuhan, mereka menanyakan wanita itu.

'Apakah engkau telah memeluk Islam?

"Benar,"jawab Ummu Syariek tegas.

"Kalau begitu, tidak ada jalan lain, kami akan menyiksamu dengan siksaan yang keras!"

Dengan berani, Ummu Syariek menegaskan, ia tak gentar oleh ancaman itu. Ia katakan pada begundal-begundal suku Dausy itu, apapun yang akan diancamkan pada dirinya, ia tak akan keluar dari keimanan-nya. Para begundal itu makin berang.

Setelah ancaman dan bujuk rayu mereka gagal, mereka menyeret wanita muminah itu, lalu memasukkannya kesebuah rumah kosong yang kotor bersama seekor unta yang penuh koreng. Bila matahari tengah terik membakar, wanita itu diseret keluar, lalu dipentangkan ditengah-tengah padang pasir. Selama dalam siksaan itu, tak setetes air pun diberikan kepadanya. Sembari menyiksa, para begundal itu terus memteror Ummu Syariek;

"Tinggalkan agama Muhammad!".

Andai saja Ummu Syariek tidak bersikeras, rayu para penyiksa itu, niscaya ia akan dibebaskan dari siksa yang berat. Tapi apa sikap wanita muminah itu? ia selalu menunjuk-nunjuk jarinya keatas langit, membuat isyarat ahad [tauhid], sebagaimana yang dilakukan sahabat Bilal r.a. Bibir wanita tegar itupun , tak putus-putusnya bertakbir, bertahmid dan bertasbih Bertubi-tubi siksaan yang mendera-nya, begitu pula diiringi nya siksaan itu dengan kesibukan berdzikir kepada Alloh. Boleh jadi, para penyiksanya sampai bosan dan lelah mendera wanita perkasa itu.

Kemudian merekapun memutuskan untuk meninggalkan wanita pembangkang ituterpentang sendirian di tengah padang pasir yang tengah terik terbakar matahari. Ketika itulah terjadi suatu mujizat Robbani. Ummu Syariek sibuk berdzikir sembari menahan dahaga luar biasa. Tatkala ia sekonyong-konyong merasakan sebuah timba air yang datang menghampi-rinya. Ia pun meneguk air itu sepuas-puasnya, dan setelah itu timba itu menjauh darinya. Ummu Syariek menoleh ke arah mana datangnya timba itu.

Demikianlah, beberapa kali timba itu mendekat, dan Ummu Syariek merenguk sepuas-puasnya. Bahkan sekujur badannya disiramnya , hingga ia merasakan kenyang dan sejuk. Dan tatkala para begundal Dausy datang kembali,lalu mengetahui keadaan wanita itu, mereka pun terperanjat luar biasa.

"Dari mana kau peroleh air itu, hai musuh Alloh?".

"Musuh Allah...? sesungguhnya kalianlah musuh Alloh, manusia-manusia yang membenci agama-Nya. Kalian tanya darimana air itu? Dari Alloh. Dia memberi rizki kepada saya!"jawab Ummu Syureik.

Mereka masih sangat tidak yakin atas keterangan wanita muminah itu. Segera gerombolan penyiksa itu menghampiri sumur yang ada di dekat situ, lantas mengamati timbanya. Ternyata timbanya masih di tempat semula tanpa berubah sama sekali. Berarti Ummu Syariek amat mustahil bisa mengambil air.

Entah kenapa, menyaksikan kenyataan ini, para pegundal Dausy itu jadi tercenung. Segera saja tanpa komando, dari bibir salah seorang penyiksa itu terlontar ucapan : "Sungguh...kami bersaksi bahwa Tuhanmu, Tuhanku pula, Tuhan yang mendatangkan rizki di tempatmu. Dialah yang menurunkan Islam."

Sejak saat itu para penyiksanya menyatakan tobat, dan masuk Islam. Lalu mereka pun komitmen, menyatakan siap menjadi dai dan pembela islam. Tercatat akhirnya dalam sejarah, seluruh keluarga Abul Akr memeluk Islam.

Ketegaran Ummu Syariek, adalah fenomena luar biasa yang baru pertama kali mereka saksikan. Tak mungkin sebuah keyakinan dipertahankan dengan sangat begitu gigihnya, kalau keyakinan itu palsu. Ketololan mereka pun akhirnya rontok oleh sebuah ketegaran Ummu Syariek. Wanita itu telah memberikan pelajaran pada mereka, betapa mahalnya harga sebuah Iman. Iman yang jujur adalah sebuah formulasi 'Robbany yang memadukan keyakinan total, kepasrahan sempurna, keberanian dan keistiqomahan" yang mampu melahirkan kekuatan tak terkalahkan. Hanya dengan iman yang jujur, kemungkaran apapun dan bagaimanapun bentuknya, pasti akan dapat dihancurkan dengan izin Alloh. Dan Ummu Syariek telah membuktikan hal itu.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh, kemudian mereka tidak ragu-ragu. Dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Alloh, mereka itulah orang-orang yang jujur [imannya]".

Sunday, July 3, 2011

DIALEKTIKA : "Kuliah Hanya untuk Kerja? Mendobrak Logika Mahasiswa Biasa"

Kamis, 23 Juni 2011, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Kampus Bandung mengadakan acara DIALEKTIKA (Dialog Intelektual Aktivis Kampus) dengan tema “Kuliah hanya untuk Kerja? Mendobrak Logika Mahasiswa Biasa”. Acara yang merupakan rangkaian dari Kampanye Kebangkitan Intelektual Muslimah (KKIM) yang diadakan secara kontinuitas setiap bulannya menuju Konferensi Intelektual Muslimah Nasional Desember tahun ini diselenggarakan di Ruang Kamandanu, Graha Parahyangan, ITB. Kajian Muslimah ini dihadiri tidak kurang dari 30 aktivis kampus yang berasal dari kampus-kampus bandung meliputi ITB, Unpad, UIN, dan UPI, dan kampus-kampus swasta Bandung.

Tema “Kuliah hanya untuk Kerja? Mendobrak Logika Mahasiswa Biasa” dilatar belakangi oleh potret nasib perempuan di berbagai belahan dunia saat ini yang masih jauh dari kemuliaan dan kesejahteraan sehingga banyak perempuan saat ini yang mengambil keputusan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Pendidikan Tinggi dengan tujuan memperoleh kemapanan materi. Kegiatan ini diharapkan dapat memberi pemahaman kepada peserta bahwa di dalam peradaban Islam, perempuan diposisikan sebagai sosok yang dapat memberikan kontribusi besar dalam membangun sebuah peradaban, tanpa mengalami disorientasi peran dan dilema keilmuannya. Karena peradaban Islam tegak di atas aturan-aturan Sang Pencipta, yang telah menciptakan laki-laki dan perempuan dan mengatur kehidupan manusia secara adil dan seimbang dan upaya penyelesaian persoalan perempuan semestinya kita tarik dari akar masalahnya yakni diterapkannya Islam sebagai aturan hidup.

Menurut Herlin, aktivis LSPI Universitas Islam Negeri Sunan Gunung jati Bandung, pendidikan tinggi tidak menentukan tingkat intelektual dari mahasiswa itu sendiri, pendidikan sekarang hanya semata-mata mengejar gelar saja dan mengarah pada keuntungan secara ekonomi. Padahal hakikat sebenarnya dari pendidikan adalah membentuk orang yang berilmu seperti apa yang terdapat dalam agama islam yang menghasilkan orang-orang kompeten dalam bidang kajiannya. Sementara Nina, aktivis dari Universitas Islam Bandung menambahkan bahwa sudah seharusnya mahasiswa tidak hanya diam tapi harus melakukan perubahan, perubahan tersebut tidak boleh dengan kekerasan fisik tapi melalui penyadaran dengan memaksimalkan peran sehingga kuliah tidak hanya untuk kerja.

Ayu Paranitha H.P., S.Farm (Anggota Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Kampus Bandung) mengutarakan, Serangkaian kebijakan yang dibuat dalam era kapitalisme saat ini dengan harapan memajukan dan menyejahterakan perempuan, justru membawa kepada ketidakmuliaan perempuan, yaitu (1) disorientasi perannya sebagai ibu dan pilar utama keluarga, (2) eksploitasi ilmu dan keahliannya untuk kepentingan industri kapitalistik. Mahasiswa saat ini lebih memilih kuliah hanya untuk kerja. Sistem kapitalisme sekuler terbukti gagal mengangkat harkat martabat perempuan, sekarang saatnya menguji kemampuan sistem Islam sebagai sistem pengganti kapitalisme. Sistem Islam yang diimplementasikan secara riil oleh institusi negara yaitu Khilafah Islamiyah. Khilafah-lah yang akan mewujudkan muslimah berkepribadian Islam, pendidik generasi pemimpin, yang berkualitas mujahid dan mujtahid. Khilafah jualah yang akan mewujudkan muslimah berkepribadian Islam, yang mampu mengoptimalkan potensi intelektual, keahlian dan kepakarannya dalam bingkai sistem kehidupan Islam.



Reported by : Maretika Handrayani

Tuesday, June 14, 2011

Perempuan dalam Belenggu kapitalisme

Memandang potret nasib perempuan saat ini kita akan menjumpai betapa perempuan di berbagai belahan dunia saat ini masih jauh dari kemuliaan dan kesejahteraan. Potret buram nasib perempuan di abad 21 ini tak bisa dilepaskan di era globalisasi yang didrive oleh sistem demokrasi-kapitalisme. Gelombang globalisasi saat ini harus dibayar mahal dengan kenyataan bahwa 2/3 angka buta huruf dunia serta 3/5 angka penduduk dunia termiskin masih diwakili oleh kaum perempuan. Inilah paradoks globalisasi yang dipimpin oleh ideologi Kapitalisme. Di Indonesia, data Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menyebut jumlah perempuan bekerja mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Jumlah perempuan bekerja 38,6 juta orang pada tahun 2006 dan meningkat menjadi 42,8 juta pada tahun 2008.

Maka, Salah satu gerbang utama agar perempuan mencapai prestasi puncak dalam keberhasilan ekonomi adalah pendidikan tinggi. Namun ironisnya, rangkaian kebijakan pendidikan ini bukan hanya gagal dalam memajukan perempuan juga membawa perempuan pada setidaknya dua bahaya besar; yaitu (1) disorientasi perannya sebagai ibu dan pilar utama keluarga, (2) eksploitasi ilmu dan keahliannya untuk kepentingan industri kapitalistik. Untuk bahaya yang pertama, bisa kita lihat dari kemajuan semu yang diklaim oleh gerakan perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan gender (gender equality). Alih-alih maju, justru malah membawa perempuan semakin terpuruk dalam kubangan persoalan. Runtuhnya struktur keluarga, meningkatnya angka perceraian, merebaknya free seks, meningkatnya kasus-kasus aborsi, dilema perempuan karir, eksploitasi perempuan, pelecehan seksual, anak-anak bermasalah dan lain-lain ditengarai kuat menjadi efek langsung dari gagasan kebebasan perempuan. Bahaya yang kedua juga tidak kalah destruktifnya, bahkan menimbulkan multiplier effect. Bahaya ini datang dari penerapan sistem pendidikan yang kapitalistik. Kebijakan otonomi kampus, misalnya, sejatinya hanya penegasan belaka atas kenyataan bahwa pendidikan tinggi di Indonesia telah berkembang menjadi industri. Di negara-negara kapitalis besar, seperti AS, Kanada, Inggris, atau Australia, pendidikan tinggi memang merupakan lahan industri strategis yang menjadi bagian dari dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi negara bersangkutan.

Komersialisasi pendidikan tinggi menjadikan kehancuran peran intelektual terpelajar dan jatuhnya kedudukan mereka sekedar sebagai agen ekonomi dan buruh murah yang memperkuat bercokolnya para kapitalis. Kapitalisme telah menjatuhkan ilmu pengetahuan dan para pemilik ilmu pengetahuan pada derajat budak-budak mereka. Ilmu dan profesionalitas mereka dibajak untuk melegitimasi sepak terjang para kapitalis dalam merampok kekayaan alam negeri ini. Undang-undang (UU) Penanaman Modal, UU migas, UU ketenagalistrikan, UU sumber daya air, semua itu adalah hasil karya para intelektual pesanan para kapitalis yang sangat menyengsarakan rakyat. Kalangan Intelektual dalam sistem kapitalistik juga ditelikung untuk menjadi pemadam kebakaran dari masalah yang terus menerus diproduksi para kapitalis. Mereka diminta untuk mereklamasi lahan bekas tambang, menemukan tanaman yang tahan terhadap pencemaran, menemukan teknik bioenergi terbaik dan berbagai teknologi yang semua itu dalam rangka menghapus dosa-dosa para kapitalis dari berbagai kerusakan yang mereka perbuat. Perempuan terpelajar yang sudah menikah pun kemudian mengalami dilema antara profesi dan peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Tuntutan pekerjaan yang sangat sibuk menjadikan anak-anak dan keluarga terbengkalai sehingga perceraian menjadi satu hal yang tidak asing.

Walhasil, dua bahaya ini akan selalu membayangi kehidupan perempuan terpelajar. Mereka akan terus menerus berada di bawah dilema antara tekanan profesionalitasnya dengan dedikasi keilmuan yang dimilikinya, demikian juga dilema antara tuntutan kesejahteraan dan peran kodratinya sebagai perempuan.