Friday, May 27, 2011

Ideologi Islam dan Konstelasi Politik Internasional?

Penerapan ideologi Islam secara sempurna untuk memecahkan masalah-masalah yang melanda umat Islam kini, merupakan hal yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Masalah yang ada demikian bertumpuk, berjibun, dan seolah tak pernah berhenti mendera umat Islam. Masalah-masalah di bidang sosial, politik, ekonomi, budaya, dan sebagainya telah membuat kita terpuruk dan tertindas. Kalaupun diselesaikan, pasti yang diterapkan adalah hukum-hukum yang jauh dari ketentuan wahyu Alloh SWT, karena sistem kehidupan yang ada sekarang telah dicengkeram oleh sistem sekuler yang memisahkan agama dari arena kehidupan.

Dan penerapan ideologi Islam, mau tak mau membutuhkan negara sebagai institusi yang berdiri untuk menerapkan hukum-hukum syara sebagai solusi berbagai problematika umat. Sebab tanpa negara, sebuah ideologi pasti akan lumpuh dan tidak bermakna signifikan. Tanpa negara, sebuah ideologi hanya akan berupa mitos atau filsafat kosong yang menjadi penghuni otak belakang, tidak bisa diimplementasikan secara konkret dalam realitas kehidupan manusia,

Dalam Islam, negara ini disebut dengan Khilafah atau Imamah, yang tak diragukan lagi kewajibannya dalam Islam. Syaikh Abdurrahman Al Jaziri menegaskan dalam kitabnya Al Fiqh Ala Al Madzahib Al Arbaah, jilid V, hal. 416

Jika kita mencoba meneropong realitas kontemporer saat ini, ideologi Islam cukup berpeluang untuk tampil kembali dalam panggung politik tingkat dunia. Tengoklah, ideologi Sosialisme telah bangkrut pada awal dekade 90-an dengan runtuhnya Uni Soviet. Negara-negara yang mengklaim penganut Sosialisme, seperti RRC, akhirnya harus bertransformasi menjadi negara Kapitalis. Adapun ideologi Kapitalisme, saat ini memang tengah berjaya dan terus berusaha melestarikan hegemoni dan dominasinya atas dunia. Amerika, Inggris, Perancis, dan negara-negara Barat yang kafir terus berusaha mengokohkannya cengkeramannya atas Dunia Islam untuk diinjak-injak, dieksploitir, dihisap kekayaan alamnya yang demikian kaya. Untuk itu mereka telah menyebarluaskan pemikiran-pemikiran kafir mereka seperti demokrasi, pluralisme, hak asasi manusia, dan politik pasar bebas. Mereka pun terus melancarkan fitnahan-fitnahan yang keji seperti tuduhan ekstrem dan fundamentalis terhadap kaum muslimin yang ingin secara tulus mengembalikan Islam ke dalam tahta kekuasaan. Sayang sekali, para penguasa di Dunia Islam telah memposisikan diri mereka sebagai bagian dari pihak Barat ini. Mereka menjadi budak-budak yang selalu tunduk, patuh, bertakbir, dan bersujud kepada majikan-majikan mereka, yakni kaum penjajah yang kafir itu. Lihatlah, alih-alih menentang dan melawan, mereka malah mendatangkan IMF, Bank Dunia, dan lembaga-lembaga internasional lainnya, lalu mengemis-ngemis, meratap, dan menghiba kepada mereka tanpa malu kepada rakyatnya, serta pasrah begitu saja terhadap instruksi-instruksi mereka untuk menjarah atau merampok harta kekayaan umat yang seharusnya dijaga dengan penuh amanah dan tanggung jawab.

Namun demikian, sebenarnya tanda-tanda kelapukan dan kehancuran Kapitalisme sudah mulai nampak. Protes-protes terhadap WTO di Seattle (AS), lalu protes terhadap IMF dan Bank Dunia di Davos (Swiss) dan Washington belakangan ini, menunjukkan bahwa Kapitalisme telah mulai diragukan dan dibenci bahkan oleh para penganutnya sendiri. Geliat Dunia Ketiga untuk menentang dominasi Barat pun nampak semakin mengental tatkala dalam forum negara-negara G-77 di Havana (Kuba) Fidel Castro menyerukan,Bubarkan IMF. Gelombang revolusi yang dilakukan masyarakat Timur tengah semakin membahana, keterhimpitan hidup dalam cengkraman kapitalisme membuat umat semakin sadar politik dan menuntut adanya perubahan.

Karena itulah, jika Sosialisme telah gagal, demikian pula Kapitalisme? yang akan segera kita hancurkan, Insya Alloh maka kemana lagi umat manusia akan berharap kalau bukan kepada ideologi Islam? Bukankah sudah cukup lama umat manusia menderita dan tersiksa di bawah tindasan ideologi-ideologi kafir seperti Sosialisme dan Kapitalisme?Bukankah ideologi-ideologi kafir tak mampu memberikan apa-apa kepada umat manusia selain penderitaan, kemelaratan, kebejatan moral, dan segala kesulitan hidup yang sangat memprihatinkan dan menyedihkan ini?

Saturday, May 14, 2011

Alloh Knows


ketika kaca mata diri tak mampu menatap pasti,
kala logika tak kuasa menerjemahkan segala arti
dan cermin hati yang tak lagi jujur tentang siapa diri…
satu hal yang perlu kau ingat,
Alloh tahu…

untuk setiap prasangka yang mampir menyapa benak, Alloh tahu…
untuk setiap lintasan pikiran dan bisikan hati yang tak terdeteksi, Alloh tahu….
untuk ungkapan sederhana yang kau anggap sekadar kata tanpa tahu nyata dan benarnya, Alloh tahu…
untuk setiap tulisan yang kau balut dengan terminologi, pragmatik, estetika, dan retorika, Alloh tahu…
untuk setiap rasa yang menyapa ujung hati yang ingin bicara, Alloh tahu…

untuk setiap duka yang coba kau jinakkan menjadi tawa, Alloh tahu..
untuk setiap senyum yang kau curi dari kerlip sang bintang, Alloh tahu…
untuk setiap rintik hujan yang membasuh setangkai krisan yang dikeringkan waktu, Alloh tahu….
untuk setiap tetes embun subuh yang mengendus jengkal-jengkal tanah lalu merayu tulang-tulang dalam dingin, Alloh tahu…

untuk daun-daun kering yang gugur melatar sore, Alloh tahu…
untuk setiap nafas yang kau kais di atas puing-puing peradaban yang runtuh, Alloh tahu..
untuk semua mimpi yang kau bentangkan di langit-langit malam, Alloh tahu…
untuk setiap doa yang kau titipkan dalam sujud-sujud panjang, Alloh tahu…
untuk setiap cinta yang kau selipkan di sudut-sudut ruang hatimu, Alloh tahu…
untuk setiap rindu yang kau nyanyikan di bilik-bilik waktu, Alloh tahu…

di balik semua tingkah, cerita, nada, dan bahasa yang pernah ada, Alloh tahu…
kau mungkin tak tahu apa yang sebenarnya kau rasa, akupun juga…
tapi Alloh tahu…Alloh tahu…

dan waktu, ia punya cara sendiri untuk ungkapkan semua….

Ku tunggu kau di garis depan !!

Ya Alloh, kuatkanlah…..kuatkanlah….
Kaulah satu-satunya sumber kekuatan.
teguhkan kepala yang menyimpan cita-cita jihad menuju mahligai keridhoanMu.
tanpaMu, kami bukan siapa-siapa. tanpaMu, kami tak berarti apa-apa.
laa hawla wa laa quwwata illa billlaah….

wahai diri… tak bosan-bosan aku mengingatkanmu, bahwa kita masih dalam perjalanan panjang
jalan para pejuang dan para pujangga peradaban nan mulia.
jalan peperangan panjang para ksatria yang miliki kekuatan ruhiyah dan kemurnian ibadah.
jalan tak bertepi hingga menapak tamantaman syurga.
hingga syahid menjadi akhir dari segala….
apa kau letih kawan? kau lelah? aku pun iya tapi, lupakanlah!
tak ada waktu untuk berkesah teruslah bergerak,
berhentilah mengeluh pegang erat pundakku dan saling menguatkan ketika mulai terjatuh
hancurkan thagut-thagut yang merupa dalam hati.
memenggal setiap leher-leher berhala yang bersemedi di jiwa.
menerjang belantara hawa nafsu yang kian meraja dan setan yang terus menggoda...
dan doa-doa yang kita titipkan dalam sujud-sujud panjang.
juga mimpi-mimpi yang kita rangkai di langit-langit malam bersama milyaran bintang.
tak hanya sekadar merasa bisa, tapi juga bisa merasa.

sejarah masih mencari aktor-aktor baru untuk menuntaskan skenario abadi ini….
tidakkah kau ingin ikut mengambil bagian? menapak jejak-jejak kesholehan.
menggenggam kuat dua pusaka yang telah diwariskan: alQuran alKarim dan sunnah Rosul yang mulia. juga surat yang dituliskan dengan dua warna: hitam pena para ulama dan merah darah para syuhada‘
wahai Robb, sampaikanlah salamku padanya, pada mereka yang dulu berteriak lantang: Hayya Bil Jihad!! pada mereka yang dulu merangkulku erat dan menasehatiku agar tak jatuh.
sampaikanlah salamku padanya, pada mereka yang dulu berjanji untuk selalu bersama dakwah. pada mereka yang dulu mengajariku arti perjuangan dan makna keikhlasan.

kembalilah pada bingkai garis keteladanan yang mulia…
kembalilah pada barisan Ghuroba’ yang mencintai Alloh dan Allohpun mencintaiNya.
berapa banyak lagi tamparan yang kau butuhkan untuk menyadarkanmu?
tidakkah kau lihat fitnah bertebaran membolakbalikkan haq dan batil dalam seketika.
juga bumi yang semakin renta.
semua manusia sedang menanti kedatangannya.
saatnya hampir tiba. umat telah memanggil-manggil jiwamu.
Islam telah menantimu menuju puncak kejayaan.
rapatkan barisan rapatkan barisan! tak ada waktu lagi, kawan…

kutunggu kau di garis depan !!



U k h t i



Ukhti…
Semua orang tahu…
Semua orang bisa lihat…
Mereka yang memiliki
mata normal pasti
langsung sadar…
Ada akhwat cantik tanpa hijab…
Punya wajah yang bersinar…
Dan senyum yang berbinar…

Ukhti…
Siapa yang tidak suka melihat kulitmu yang bersih?
Siapa yang tidak senang melihat lekuk tubuhmu yang menarik?
Siapa yang menolak melihat wajahmu yang cantik?
Semua orang mau dekat denganmu…
Semua orang ingin menyentuhmu…
Semua orang ingin memilikimu…
Tapi ukhti…
Ketahuilah…
Tak semua orang ingin kau miliki…
Tak semua orang ingin kau mintai pertanggungjawaban atasmu…
Tak semua orang ingin
melindungimu…

Ukhti…
Aku ingin melindungi
cantikmu…
Aku mau menjaga dirimu…
Tapi bantulah aku untuk menjagamu…
Yaitu dengan ikut menjaga
penampilanmu…

Ukhti…
Aku yakin engkau telah berulang kali mendengarkan ini
Mungkin engkau merasa bosan…
Tapi aku tak akan pernah
bosan mengingatkanmu…

Ukhti…
Engkau bagaikan sebuah berlian
Berlian yang indah bersinar…
Banyak orang mengincarmu…
Mereka ingin merenggut sinar itu…

Tapi, Ukhti…

Ketahuilah, sebuah berlian… yang tak hidup itu…
Diberi penjagaan berlapis-lapis…
Ia dikungkung dalam lemari baja…
Yang dilindungi oleh alarm…
Terali besi…lemari kaca…
Bahkan untuk sekedar melihat indahnya…
Seseorang harus melewati prosedur berbelit-belit

Ukhti…
Berlian itu hanya sebuah batu…
Sedangkan engkau?
Engkau manusia! Engkau
hidup! Engkau indah!
Engkau adalah karya sempurna Sang Pemahat sejati
Dan engkau lebih pantas untuk dilindungi…

Sayang…
Cantikmu jangan diobral…
Engkau tahu kan… barang obralan itu…
Mutunya rendah…
Harganya murah…
Seenaknya boleh dijamah…
Rusak tak mengapa… kotor bukan masalah…

Sayang…
Cantikmu jangan diobral…
Simpan cantikmu untuk yang berhak memiliki…
Simpan cantikmu agar
engkau makin cantik…
Dengan kesempurnaan aqidahmu…
Dengan kedalaman ilmumu…
Dengan keindahan akhlaqmu …
Yang terpancar dari balik kerudung dan jilbabmu…
Simpanlah untuk orang yang bersedia menukarnya dengan surga…

Ya, Ukhti…
Hanya ditukar dengan
akses bebas masuk surga…
Dari pintu mana saja yang engkau suka sajalah…
Kau berikan akses sepuasnya pada cantikmu…
Dan orang yang akan
memberimu akses itu…
Pasti adalah orang yang tidak meminta “uang muka”
Dari cantikmu…

Sayang…
Cantikmu itu berharga…
Cantikmu itu karunia
Alloh…
Cantikmu itu amanah…
Engkaulah yang membuat cantikmu…
Menjadi pahala…
Atau fitnah…

Ukhti…
Jangan engkau anggap cantikmu itu murah…
Dunia dan seisinya tak mampu membayar
cantikmu itu…
Pemahat terhebat di dunia ini pun tak mampu mengukir bentuk seindah
dirimu…
Engkau adalah bidadari dunia…
Tapi… jangan mau hanya jadi bidadari di dunia saja…
Ayo… berusaha menjadi bidadari surga!

Ukhti…
Simpan cantikmu…
Orang-orang itu tak pantas menikmatinya darimu…
Orang-orang itu bahkan membawa api neraka di tiap pandangan mata
mereka…

Sayang, cantikmu jangan diobral…
Karena cantikmu…

BEDA…

Cinta Sepanjang masa untuk Khadijah

Ia adalah wanita yang terus hidup dalam hati suaminya sampaipun ia telah meninggal dunia. Tahun-tahun yang terus berganti tidak dapat mengikis kecintaan sang suami padanya. Panjangnya masa tidak dapat menghapus kenangan bersamanya di hati sang suami. Bahkan sang suami terus mengenangnya dan bertutur tentang andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah yang dihadapi. Sang suami terus mencintainya dengan kecintaan yang mendatangkan rasa cemburu dari istri yang lain, yang dinikahi sepeninggalnya. (Seperti dituturkan Mazin bin Abdul Karim Al Farih dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil)

Suatu hari istri beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain (yakni ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha) berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada seorang pun dari istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti cemburuku pada Khadijah, padahal aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menyebutnya.” (HR. Bukhari)

Ya, dialah Khadijah bintu Khuwailid bin Asad bin ‘Abdul ‘Uzza bin Qushai. Dialah wanita yang pertama kali dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bersamanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membina rumah tangga harmonis yang terbimbing dengan wahyu di Makkah. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menikah dengan wanita lain sehingga dia meninggal dunia.

Saat menikah, Khadijah radhiyallahu ‘anha berusia 40 tahun sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia 25 tahun. Saat itu ia merupakan wanita yang paling terpandang, cantik dan sekaligus kaya. Ia menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak lain karena mulianya sifat beliau, karena tingginya kecerdasan dan indahnya kejujuran beliau. Padahal saat itu sudah banyak para pemuka dan pemimpin kaum yang hendak menikahinya.

Ia adalah wanita terbaik sepanjang masa. Ia selalu memberi semangat dan keleluasaan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mencari kebenaran. Ia sendiri yang menyiapkan bekal untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau menyendiri dan beribadah di gua Hira’. Seorang pun tidak akan lupa perkataannya yang masyhur yang menjadikan Nabi merasakan tenang setelah terguncang dan merasa bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali yang pertama, “Demi Alloh, Alloh tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih) (Mazin bin Abdul Karim Al Farih dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil)

Pun, saat suaminya menerima wahyu yang kedua berisi perintah untuk mulai berjuang mendakwahkan agama Alloh dan mengajak pada tauhid, ia adalah wanita pertama yang percaya bahwa suaminya adalah utusan Alloh dan kemudian menyatakan keislamannya tanpa ragu-ragu dan bimbang sedikit pun juga.

Khadijah termasuk salah satu nikmat yang Alloh anugerahkan pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia mendampingi beliau selama seperempat abad, menyayangi beliau di kala resah, melindungi beliau pada saat-saat yang kritis, menolong beliau dalam menyebarkan risalah, mendampingi beliau dalam menjalankan jihad yang berat, juga rela menyerahkan diri dan hartanya pada beliau. (Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury di dalam Sirah Nabawiyah)

Suatu kali ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah beliau menyebut-nyebut Khadijah, “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita lain selain Khadijah?!” Maka beliau berkata kepada ‘Aisyah, “Khadijah itu begini dan begini.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Ahmad pada Musnad-nya disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “begini dan begini” adalah sabda beliau, “Ia beriman kepadaku ketika semua orang kufur, ia membenarkan aku ketika semua orang mendustakanku, ia melapangkan aku dengan hartanya ketika semua orang mengharamkan (menghalangi) aku dan Alloh memberiku rezeki berupa anak darinya.” (Mazin bin Abdul Karim Al Farih dalam kitabnya Al Usratu bilaa Masyaakil)

Saturday, May 7, 2011

a s a


Lembar-lembar putih itu akhirnya penuh tinta hitam merah ungu abu-abu putih perak emas dan semua warna dunia. Hampir gelap tak tertandingi oleh segenap asa dan hari-hari yang bergulir, Binar-binar keindahan kerap terasa tetapi kadang kabur melebihi kabut serat warna putih..Tapi, yakinkan hati bahwa Dia akan selalu ada, tetaplah tegar menatap hari hingga lara menjadi letih mengikuti..