Saturday, November 19, 2011

Menempatkan Anugerah

Cinta dan benci adalah rasa yang dianugerahkan Alloh SWT kepada manusia. Maka seperti halnya rasa benci, rasa cinta juga harus ditempatkan sesuai dengan perintah Alloh. Dalam QS. At-Taubah Alloh berfirman,

Katakanlah : “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Alloh dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Alloh mendatangkan keputusanNya, “ dan Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik (TQS. At-Taubah (9) : 24).

Dalam ayat tersebut jelas sekali tersirat bahwa cinta kita kepada keluarga, jangan sampai mengalahkan cinta kita kepada Alloh. Maka ketika kita mencintai mereka, cinta itu harus diarahkan untuk mentaati Alloh dan RasulNya, menyambut seruanNya dan berlomba-lomba menuju ampunan dan surgaNya.

Ketika bicara cinta antara dua manusia, maka cinta antara Rasulullah dan Khadijah adalah gambaran yang utuh, cinta yang dibangun semata-mata hanya meraih keridloan Alloh semata. Rasullullah menikahi Khadijah bukan karena kedudukannya, bukan pula karena harta dan kecantikannya, sekalipun Khadijah memiliki itu semua. Rasulullah memperistrinya, karena melihat Khadijah adalah sosok yang mampu menyokong dakwah dan perjuangannya. Lihatlah ketika Khadijah mendampingi Rasulullah, dia mampu menjadi pendukung utama dakwah Rasul, dengan harta dan jiwanya, sepenuh hati. Menjadi sandaran Rasulullah saat orang-orang Quraisy Makkah memusuhi dan menghinanya. Menjadi hiburan teristimewa saat Rasul membutuhkannya, dan melahirkan generasi pejuang yang mampu menjadi aset akhiratnya.

Atau bagaimana kisah Ibrahim alaihissalam dan Hajar. Rasa cinta kepada Alloh, membuat mereka ridlo dengan apapun ketetapan Alloh, sekalipun Ibrahim harus meninggalkan Hajar dan Ismail di tengah padang pasir, meninggalkan istri dan anak yang tentu saja sangat dicintainya. Tapi lagi-lagi, cinta kepada Allohlah yang harus ditempatkan pada letak yang tertinggi.

Bagaimana pula dengan kisah suami istri Yasir dan Sumayyah. Dua pasangan syahid pertama yang rela disiksa demi mempertahankan akidahnya. Suami istri yang menyadari bahwa hidup hanyalah dipersembahkan untuk Alloh dan RasulNya, maka ikatan cinta yang mereka bangun adalah ikatan yang berlandaskan pada ketaatan kepada Alloh dan Rasulnya. Rela menanggung derita, rela mengorbankan apapun yang dimilikinya, rela melepaskan waktu berdua, ketika Alloh dan Rasulnya memintaNya.

Demikian hal nya kisah para sahabat di Uzbekistan. Ketika para suami mereka mendapat siksaan dari rezim Islam Karimov karena memutuskan tetap memilih berdakwah dan memperjuangkan ditegakkannya hukum-hukum Alloh di muka bumi, sang istri bukannya lari meninggalkannya, tapi memberi dukungan yang luar biasa. Mereka mengatakan, “Jika kau melepaskan jalan dakwah ini, sungguh kau tak pantas menjadikanku istrimu”. Subhanalloh,

Kisah-kisah yang luar biasa. Cinta mereka dipersembahkan hanya untuk Alloh dan RasulNya, cinta yang sudah tentu mendapat keridloanNya, kisah cinta yang akan Alloh tempatkan di surgaNya kelak. Sangat jauh berbeda dengan kisahnya Romeo dan Juliet, Sam Pek Eng Tay, Tittanic, Cinderella, Laila Majnun dan kisah-kisah fiksi lain yang digembar-gemborkan sebagai cinta sejati, nyatanya hanyalah kisah sampah yang melenakan para generasi kita. Wallahualam.

No comments:

Post a Comment